HOME   > REFERENSI  > -Pemeliharaan AC

 
 

-Pemeliharaan AC

 



 

 
INSTALASI AIR CONDITIONING
 
 
 
 
 
 
 
 
Oleh
 
 
Sekretaris Majelis Kehormatan
IKATAN AHLI FISIKA BANGUNAN INDONESIA
1999 ~ 2002
 
 
Insinyur professional Madya (IPM)
PERSATUAN INSINYUR INDONESIA
 
Direktur Utama
PT. SPARINDO ALFA PERSADA

(Kontraktor) 

 

 


 

1.                     PEMASANGAN
1.1.                  Umum.
                        System Airconditioning yang sekarang ini mulai dikenal dengan nama sisstem TATA UDARA yang secara umum menggunakan mesin yang tidak telepas dari prinsip keseimbangan energy dan secara Blok Diagram dapat digambarkan sebagai berikut :
 
 
                       
 
 
Gambar 1.1.(1)
 
Dimana Energi A dan Energi B biasanya dinyatakan dalam suatu Btuh atau Kcal/h. dan energi B dinyatakan dalam KW input sehingga efisiensi sering dinyatakan dalam KW/TON Ref (1 Ton Ref = 12.000 Btuh).
Kalau kita teliti lebih dalam bagian-bagian dari mesin tata udara ini, maka akan ditemui 4 (empat) komponen utama yang terangkai sebagai berikut :
 
 
Gambar 1.1.(2)
 
                         Disini terlihat jelas bahwa dalam suatu mesin Tata Udara selalu ada bagian dingin (dalam hal ini namanya Evaporator) dimana panas diserap dan diletakkan didalam bangunan. Dan bagian panas (dalam hal ini dinamakan Kondensor dimana panas dibuang) an diletakkan diluar bangunan.
Disamping itu pula, cara menyerap dan membuang panas dilakukan dengan dua media, yaitu Air atau Udara.
Satuan-satuan.
Kalori – 1 Ton Ref = 12.000 Btuh
              1 Ton Ref = 3024 Kcal/h
              1 Ton Ref = 3,52 KW output
 
Laju aliran udara :        CFM (Cubic feet per menit) atau m3/detik.
Laju aliran air      :       GPM (gallon per menit) atau Liter/menit.
 
 
1.2                             Sistim – sistim
Sistim yang popular didalam mesin Tata Udara ditentukan menurut beberapa ketentuan sebagai berikut :
a.     Kesatuan komponen utama.
b.     Cara pembuangan panas di Kondensor
c.     Cara penyerapan panas di Evaporator.
 
Dan dari ketentuan-ketentuan diatas ini timbul sistim-sistim sebagai berikut :
1.              Air Cooled Packaged.
a.     Air Cooled berarti bahwa cara pembuangan panasnya di kondensor dilaksanakan dengan udara.
b.     Packaged berarti keempat komponen utama berada didalam satu kesatuan.
 
2.              Air Cooled Split
a.     Air Cooled berarti bahwa cara pembuangan panasnya di kondensor dilaksanakan dengan udara.
b.     Split berarti komponen utama berada didalam kesatuan yang terpisah yaitu biasanya terdiri dari :
1). Condensing unit  :        terletak diluar bangunan yang meliputi compressor dan kondensor.
2).Air handling unit :         terletak didalam bangunan yang meliputi evaporator dan katup expansi.
 
3.              Water Cooled Packaged.
 
4.              Air Cooled Packaged Chiller.
a.     Air Cooled berarti bahwa cara pembuangan panas di kondensor dilakukan dengan udara.
b.     Packaged berarti bahwa keempat komponen utama berada didalam suatu kesatuan.
c.     Chiller berarti bahwa cara pembuangan panas di evapotar dilakukan dengan air.
 
 
1.              Water Cooled Packaged Chiller
a.     Watercooled berarti pembuangan panas di kondensor dilakukan melalui air.
b.     Packaged berati keempat komponen utama berada dalam satu kesatuan
c.     Chiller berarti penyerapan panas di evaporator dilakukan melalui air.
 
 
1.3.                           Aplikasi sistim & untung rugi.
1.3.1.                       Range kapasitas.
Air cooled packaged                                        0-20 Ton Ref
Air cooled split                                               0-60 Ton Ref
Water cooled packaged                                   0-100 Ton Ref
Air cooled chiller                                             20-200 Ton Ref
Water cooled chiller reciprocating                   20-30 Ton Ref
Water cooled chiller centrifugal                       100 s/d 10.000 Ton Ref
 
 
1.3.2.                       Untung Rugi.
a.              Aircooled Packaged: -           Murah
-                biaya listrik mahal (1,4 – 1,8 KW/Ton)
-                terbatas untuk ka[asitas kecil
-                mudah dipasang
-                kurang flexible
-                temperature ruangan tidak dapat diatur individually
-                biaya maintenance paling murah.
 
b.         Aircooled Split :       -           relative murah
                                                -           listrik mahal ± 1,5 – 2 KW/ton
                                                -           kapasitas kecil sampai medium
-           pemasangan membutuhkan ketelirian dan pengetahuan
-           flexible
-           temperature ruang tidak dapat diatur individually.
 
                        c.         Water cooled Packaged :      harga sedang-sedang
-           biaya listrik sedang ± 1,2 –                                         1,5 kw/ton
-           perlu sumber air yang baik                                                                                                                  dan banyak
-           biaya maintenance lebih t                                                                                                                     inggi.
-    cocok untuk penggunaan gedung-gedung bertingkat yang didinginkan dari masing-masing lantai
-        Temperature ruangan-ruangan di masing-masing lantai tidak dapat diatur per-ruangan.
 
d.         Aircooled Chiller     :           harga relative mahal
-           biaya listrik tinggi ± 1,5 – 1,8 kw/ton
-           harus dipasang di udara terbuka
-           cukup flexible
-           ruangan dikondisikan melalui Fan Coil ataupun AHU
e.         Water cooled Chiller :         harga mahal
            Reciprocating                        -           biaya listrik sedang 1 – 1,2 kw/ton
-           biaya maintenance lebh tinggi
-           perlu air yang baik dan banyak
-           cukup flexible
-           ruangan-ruangan dapat dikondisikan melalui Fan Coil ataupun AHU
 
f.          Water cooled Chiller :         harga mahal
            Centrifugal               -           biaya listrik rendah 0,7 – 1 kw/ton
-           biaya maintenance lebih tinggi
-           perlu air yang baik dan banyak
-           cukup flexible
-           ruangan-ruangan dapat dikondisikan melelui Fan Coil ataupun AHU.
 
 
1.4.                           Instalasi Sistem Refrigerasi
Dalam pemasangan sistim refrigerasi, teruama pemasangan dilapangan pada sistim Split yang memerlukan pengelasan pipa tembaga dan adanya jarak maupun perbedaan ketinggian antara outdoor dan indoor unit, maka ada beberapa hal penting yang harus dapat diperhatikan yang terutama disebabkan oleh tiga hal yang sangat penting dalam menjaga usia pakai mesin yang bersangkutan.
1.     Sistim refrigerasi harus bersih, sebab apabila kotor, baik karena sebab-sebab pengelasan maupun pemvakuman yang tidak mengikuti prosedur akan menyebabkan kontaminasi yang minimum akan menyebabkan kerusakan pada gulungan motor compressor.
2.     Cairan refrigerant tidak boleh masuk ke compressor meskipun dalam keadaan jalan, hal ini sulit terjadi. Kalau superheat diatur cukup besar (15ºF), tapi apabila posisi evaporator berada diatas compressor maka dalam keadaan mati, cairan yang berada di evaporator akan masuk secara gravitasi ke compressor dan ini sangat berbahaya karena pada saat start compressor dibanjiri oleh cairan refrigerant dan oli yang bias menyebabkan kerusakan yang fatal.
3.     Oli compressor yang ikut kedalam sistim pada saat sistim bekerja harus kembali ke compressor untuk mempertahankan level oli di compressor. Masalahnya bias timbul apabila posisi condensing unit berada diatas evaporator akibatnya compressor kehilangan oli dan mengakibatkan kerusakan pada compressor yang fatal.
4.     Instalasi yang harus diperhatikan apabila :
a.     Posisi Evaporator diatas KOmpressor
b.     Posisi Kompressor diatas evaporator.
Dalam kondisi ini perlu dipasang section trap yang gunanya agar oli yang terkumpul di section trap akan terbawa oleh kecepatan uap refrigerant kembali ke compressor.
 
 
 
 
2.                                PENGUJIAN, PENYETELAN DAN BALANSING.
2.1                             Umum.
Prosedur dan pelaksanaan pengujian, penyetelan dan balancing perlu direncanakan dengan cermat.
Semua aktifitas, seperti organisasi, kalibrasi instrument dan pelaksanaan kerja harus terjadwal.
Karena beberapa sistim fungsinya berbeda dan temperature kerja sangat berarti, penting sekali untuk mengkoordinasikan pekerjaan pada sisi udara dan pada sisi air.
Pekerjaan persiapan yang perlu dilakukan antara lain : perencanaan dan penjadwalan semua prosedur, pengumpulan data penting, peninjauan ulang data, mengkaji system yang sedang beroperasi, menyiapkan formulir-formulir dan membuat persiapan inspeksi lapangan. System saluran (udara dan air) harus direncanakan, dibuat dan dipasang dengan sekecil mungkin kebocoran.
 
2.1.1.                       Pertimbangan Perancangan
Pengujian, penyetelan dan balancing suatu system dimulai dari perencanaan fungsi.
Untuk menjamin balancing tepat dan dapat diterima, perencanaan harus menunjukkan dan mensyaratkan damper dan katup-katup dalam jumlah yang cukup, dan lokasi penempatan alat ukur aliran dan balancing aliran harus tepat.
Prosedur pengujian karakteristik system dan penempatannya.
Perencanaan harus mensyaratkan “toleransi balancing”.
Disarankan toleransi berkisar antara ± 10 % untuk terminal individual dan cabang-cabang yang pemakaiannya tidak kritis dan ± 5 % untuk saluran udara utama.
Untuk pemakaian kritis, dimana perbedaan tekanan harus selalu dipelihara, toleransi berikut disarankan :
Daerah positive.
Udara pasok : 0 s/d + 10%
Udara balik dan udara yang dikeluarkan : 0 s/d – 10%
Daerah negative
Udara pasok : 0 s/d 10%
Udara balik dan udara yang dikeluarkan : 0 s/d + 10%
 
 
2.2                             Metoda pengukuran volume udara.
2.2.1.                       Umum.
Menggunakan jalur tabung pitot adalah cara yang umum yang dapat diterima untuk mengukur aliran udara system saluran udara.
Cara lain dijelaskan oleh pabrik pembuatnya. Pengujian laboraturium dan data teknis “terminal udara” bila perlu dapat dikaji ulang dan dapat diperiksa keakurasiannya.
2.2.2.                       Pengukuran aliran udara diffuser dan Grille.
Faktor K yang diberikan oleh pabrik pembuat diffuser dan Grile perlu diperiksa ketelitiannya dan bila perlu dapat dilakukan pengukuran di lapangan.
Dengan mengalikan kecepatan dan luas efektif empiris, diperoleh besarnya aliran udara yang mengalir melalui Diffuser/Grille. Hasil pengukuran yang teliti diperoleh dengan menggunakan “ALNOR VELOMETER” yang dilengkapi dengan “Probe”.
Faktor K dari cerobong harus ditentukkan pada bermacam-macam laju aliran dan setelan sudut. Alat cerobong sering dipakai untuk mengukur aliran udara, terutama untuk Diffuser/Giller. Jika udara tidak mengisi penuh bagian yang diukur, pembacaan memerluka faktor koreksi (sama seperti faktor K).
Luas efektif (faktor K), harus ditentukan dengan damper terbuka penuh dan penyetelan sudu seragam pada semua grille.
Faktor koreksi dibutuhkan juga untuk mengukur aliran udara di saluran udara terbuka seperti cerobong asap.
 
2.2.3.                       Pengukuran aliran udara di saluran udara.
Prosedur pengujian, penyetelan dan balancing yang berhubungan dengan pengukuran volume pada saluran udara lebih mudah dibandingkan pengukuran diterminal.
Pengukuran pada saluran udara lebih dapat dipercaya dari pada pengukuran di terminal yang biasanya mengandalkan data dari pabrik pembuatnya.
Pengukuran diterminal lebih cocok untuk membalans distribusi udara yang menuju ruangan atau Zona.
Cara terbaik mengukur volume aliran air udara pada saluran udara adalah dengan menggunakkan tabung pitot.
Hal penting yang harus diperhatikan adalah saluran udara yang diukur perlu panjang dan lurus. Jika pada pemasangan tabung pitot pada saluran udara, panjang lurusnya kurang atau tidak ada tempat pemasangan tabung pitot yang memenuhi ketentuan, prosedur yang dipersyaratkan oleh SAVER DAN HOWELL (1990) dapat digunakan.
 
2.2.4.                       Pengukuran aliran udara di Panum pencampur.
Untuk mengukur volume aliran udara campuran (contoh udara luar dan udara balik dari ruangan), tidak dapat ditentukkan secara tepat dengan pengukuran volume aliran udara yang biasa.
Dalam beberapa hal, temperature udara campuran dapat menunjukkan balans antara komponen-komponen aliran udara.
 
2.2.5.                       Pengukuran tekanan udara
Tekanan udara yang diukur antara lain: tekanan baromatik, tekanan static, tekanan kecepatan, tekanan total dan perbedaan tekanan.
Pengukuran tekanan udara harus dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Hasil analisa bersama dengan kurva fan yang dikeluarkan oleh pabrik pembuat.
Pada pengukuran dilapangan, pembacaan tekanan udara, jumlah aliran udara dan daya input sering tidak cocok dengan kurva kinerja yang dikeluarkan pabrik pembuat, karena diperlukan koreksi.
Adanya penurunan tekanan pada peralatan sepeeti coil, damper, atau filter tidak dapat digunakan untuk mengukur aliran udara.
Tekanan udara merupakkan sarana untuk menentukkan volume aliran udara.
 
 
2.3.                           Prosedur balancing untuk system aliran udara.
2.3.1.                       Prosedur Persiapan Balansing Udara
Sebelum system dioperasikan, langkah-langkah berikut perlu dilakukan :
1.     Memperoleh “gambar instalasi terpasang” (as built drawing)
2.     Memperoleh copy gambar kerja (shop drawing) yang disetujui dari semua AHU; terminal (pasok, balik dan pengeluaran), diagram control temperature, termasuk kurva kinerjanya.
Bandingkan persyaratan yang tercantum dalam perencanaan dengan peralatan dan instalasi pada gambar kerja.
3.     Membandingkan antara perencanaan peralatan/instalasi terhadap peralatan/instalasi yang terpasang di lapangan
4.     Periksa jalur saluran udara dari AHU ke unit terminal untuk mengetahui perbedaan pemasangan terhadap apa yang direncanakan.
5.     Periksa damper volume dan damper kebakaran apakah posisinya telah terkunci dengan baik dan perletakkan control temperature sebelum fam dioperasikan.
6.     Menyiapkan lembar laporan pengujian fan dan terminal. Memperoleh angka Faktor Koreksi K terminal dari pabrik pembuat dan prosedur pengujian yang disarankan. Penjumlahan volume aliran udara yang melalui terminal diperiksa silang dengan volume aliran air udara fan.
7.     Menentukan lokasi yang terbaik alat ukur pada saluran udara utama dan cabang guna memperoleh hasil pengukuran dengan penelitian yang tinggi.
8.     Menempatkan seluruh damper terminal dalam kedudukan terbuka penuh.
9.     Menyiapkan diagram skematik dari system saluran udara yang terpasang dan denah pipa untuk melengkapi laporan.
10. Memeriksa kebersihan filter dan pemasangannya harus benar (tidak ada udara yang melintas langsung tanpa melalui filter).
 
 
2.3.2.                       Pemeriksaan, pengukuran dan balancing pada peralatan dan system
1.         Pemeriksaan dan pengukuran di AHU.
            Operasikan semua fan dan selanjutnya periksa hal-hal sebagai berikut :
a.     Amper dan Voltage untuk melindungi motor fan dari beban lebih.
b.     Putaran fan
c.     Damper otomatis pada posisi udara dalam kotak, pada sambungan sekeliling koil dan pada rangka filter. Setiap kebocoran harus dipakai.
 
2.         Pemeriksaan dan pengukuran di saluran udara.
a.   Jalur saluran utama atau cabang diharapkan panjang dan lurus
b    Letak lubang pengujian harus memenuhi ketentuan yang berlaku.
c.   Pengukuran pada jalur menggunakan tabung pitot dan manometer bila kecepatan udaranya diatas 600 fpm. Dibawah kecepatan tersebutmenggunakan micro manometer dan tabung pitot bersama-sama.
d.   Catat temperature dan tekanan barometer untuk menentukan koreksi jumlah udara standar bila dibutuhkan. Koreksi secara normal tidak dibutuhkan untuk ketinggian dibawah ft, meskipun demikian bila hasil yang akurat diinginkan, faktor koreksi perlu dipertimbangkan
e.   Stel damper cabang secara benar sampai mempunyai volume udara seimbang dan sesuai dengan keinginan.
f.    Dengan semua damper dan register dalam kedudukan terbuka, set perbandingan udara luar udara balik.

 Jika lokasi saluran udaranya tidak ada, dapat dilakukan dengan mengukur temperature udara campuran, udara balik, udara luar dan pada penampang filter dengan menggunakan thermometer.

      Sebagai pendekatan, temperature campuran dapat dihitung dengan persamaan 5.2.4. Perbedaan temperature yang sangat besar antara udara luar dan udara bali, akan memudahkan memperoleh akurasi penyetelan damper. Ukurlah temperature pada beberapa dalam jalur untuk meyakinkan tidak adanya susunan berlapis dari udara.
 
3.         Balansing pada unit AHU.
            Set dengan hati-hati system sel;ama balancing, gunakan prosedur sebagai berikut :
a.     Setelan total udara yang dikeluarkan stabil, setel kecepatan untuk memperoleh aliran udara sesuai rancangan. Periksa daya input dan kecepatannya, untuk mengetahui daya motor dan atau kecepatan kritis fan tidak terlampaui.
b.     Setel system dengan dimulai posisi damper pencampur dalam kondisi udara luar minimal.
c.     Untuk penyetelan zona jamak atau system saluran udara ganda dengan volume konstans, tentukan perbandingan volume rancangan yang melalui koil pendingin terhadap volume total fan. Bila rancangan menghendaki untuk mengalirkan udara penuh melalui koil pendingin, seluruh system harus di set untuk aliran udara penuh selama pengujian.
 
4.         Balansing pada saluran ua\dara.
a.   Penyetelan dan balancing pada seluruh saluran udara dimulai dari outlet terminal ke cabang, selanjutnya ke saluran utama yang menuju Fan Pasok.
b.   Damper cabang harus dipakai hanya untuk penyetelan volume aliran udara yang besar dan damper terminal hanya untuk penyetelan volume aliran udara yang kecil. Bila diperlukan dapat dipasang damper terminal yang dapat membuat kebisingan.
c.   Total jumlah aliran udara outlet terminal yang diuji dibandingkan terhadap jumlah aliran udara pada jalur saluran utama menunjukkan besarnya kebocoran pada saluran udara.
 
 
2.3.3                        Keterangan laporan
Laporan tentang pengujian, penyetelan dan balancing dari alat pengendalian udara sekurang-kurangnya terdiri dari :
1.              Rancangan.
a.     Jumlah udara yang dikeluarkan.
b.     Tekanan static fan
c.     Daya motor
d.     Prosen udara luar pada kondisi minimum
e.     Kecepatan fan
f.      Daya yang dibutuhkan untuk memperoleh jumlah udara pada tekanan static rancangan.
 
2.              Pemasangan
a.     Pabrik pembuat peralatan (menunjukkan nomor model dan model serie)
b.     Ukuran dari unit yang dipasang.
c.     Susunan AHU
d.     Klas fan
e.     Palt nama yang menunjukkan : daya, voltage, phasa, cycle dan amper beban penuh dari motor yang dipasang.
 
3.              Pengujian lapangan
a.     Kecepatan fan
b.     Pembacaan daya (voltage, amper pada semua phasa dari terminal motor).
c.     Total perbedaan tekanan yang menyilang pada setiap komponen.
d.     Tekanan static pada isapan fan dan pelepasan fan (sama untuk tekanan total)
e.     Gambarkan pembacaan actual pada kurva kinerja fan dari pabrik pembuatnya.
f.      Ukur laju aliran udaranya
 
Penting untuk menetapkan akurasi tekanan static awal untuk peralatan pengolah udara dan system saluran udara, sehingga perubahan jumlah udara yang disebabkan beban filter dapat dihitung.
Hal ini untuk memungkinkan perancang yakin bahwa kuantitas total fan tidak akan pernah kurang dari kebutuhan minimum. Ia juga menyediakan pemeriksaan koil yang kotor, jadi kuantitas udara pada beban puncak dari filter telah dihitung.
 
4.              Outlet terminal
a.     Pabrik pembuat outlet dan jenisnya
b.     Outlet di ruangan yang direncanakan dan penempatannya
c.     Ukuran outlet (menggunakan perancangan pabrik untuk menjamin faktornya benar) faktor outlet dari pabrik pembuat (jika tidak ada faktor yang berlaku atau pengujian dilapangan menunjukkan faktor yang dicatat tidak benar, faktor harus ditentukkan dilapangan pada jalur saluran udara di depan saluran udara tunggal).
d.     Kuantitas udara rancangan dan kecepatan yang dibutuhkan untuk memperoleh kondisi yang diinginkan.
e.     Uji kecepatan dan kuantitas udara yang dihasilkan
f.      Setel model untuk setiap terminal udara
 
5.              Informasi tambahan (jika diperlukan)
a.     AHU
1). Jumlah sabuk dan ukurannya.
2). Ukuran sheve yang bergerak dan yang menggerakan
3). Posisi sabuk pada stelan sheave yang bergerak
4). Kecepatan motor pada beban penuh
5). Ukuran pemanas motor
6). Jenis filter dan tekanan static pada penggunaan awal dan beban penuh, waktu yang mengganti.
7). Perubahan kecepatan pada bermacam-macam titik yang memotong permukaan koil.
8). Keberadaan damper vortex atau damper pelepasan atau keduanya.
 
b.   Sistem distribusi
      1). Susunan saluran udara yang luar biasa.
2). Pembacaan tekanan static pada saluran udara di dalam saluran udara ganda dan system konduksi
3). Pembacaan tekanan di langit-langit dimana langit-langit dipakai sebagai planum distribusi, langit-langit harus cepat.
4). Hubungan bangunan dengan tekanan udara luar keduanya pada kondisi udara luar maksimum dan minimum.
5). Pabrik pembuat unit induksi dan ukurannya (termasuk kuantitas udara yang dibutuhkan pada tekanan palum untuk setiap unit) dan tekanan uji planum dan hasil udara yang dikeluarkan dari kurva yang dibuat pabrik.
 
c.   Semua plat nama peralatan harus jelas dan mudah dibaca.
 
 
2.4                             Prinsip dan prosedur balancing system hidronik.
2.4.1.                       Umum.
Perpindahan kalor untuk sisi air dari suatu terminal tidak langsung berhubungan dengan laju aliran air. Karena itu, katup balancing yang benar sesuai karakteristik control harus disediakan pada setiap terminal untuk membalans dengan laju aliran air sesuai kondisi rancangan.
 
 
2.5.                           Balancing pada sisi air
2.5.1.                       Umum
Sisi air harus di balans dengan langsung mengukur alirannya. Pengukuran aliran pada setiap terminal memungkinkan balancing yang benar dan penyesuaian pompa terhadap system nyata yang dibutuhkan.
 
 
2.5.2.                       Peralatan
Pemilihan peralatan yang benar dan direncanakan sejak awal dibutuhkan untuk keberhasilan balancing system hidronik. Pada kenyataannya yang harus diukur adalah aliran, temperature dan tekanan.
Perencana harus mensyaratkan alat ukur yang dipakai untuk membalans air pada saat pemasangan, pengujian dan selama balancing system hidronik.
Alat ukur dimaksud antara lain sebagai berikut :
1.     Flow Meter (ultra sonic station, turbin, venture, office plate, multipart potot
2.     Manometer, ultrasonic digital meter dan differential pressure gage (analog atau digital)
3.     Portable digital Meter untuk mengukur aliran penurunan tekanan.
4.     Portable pyrometer untuk mengukur perbedaan temperature bila lubang pengujian tidak disediakan.
 
 
2.5.3.                       Memelihara catatan
Balancing memerlukan catatan yang teliti dan terpelihara, dibuat sesuai pengukuran di lapangan. Tanggal dan ditanda tangani leporan pengujian lapangan meolong perencana atau pemberi tugas dalam menyetujui pekerjaan dan pemberi tugas akan mempunyai arsip dokumen, bila dimasa mendatang ada perubahan.
 
2.5.4.                       Pengukuran pada katup balancing
Katup balancing ditempatkan dalam system untuk mengatur aliran air ke terminal, cabang, zona, pipa tegak atau pipa utama. Ukuran katup yang umum dipilih sesuai ukuran pipa, ini mungkin kurang tepat karena penurunan tekanan yang sangat besar dapat terjadi dan bias merusakkan dudukan katup.
Banyaknya katup balancing dan meter pengukur dapat memberikan akurasi sampai ± 5 % untuk penurunan tekanan 12 air dengan katup balancing dalam posisi terbuka lebar. Perencana biasanya memilih katup balancing dengan penurunan tekanannya antara 5 dan 10 % dari total penurunan tekanan lup pada aliran rancangan, dimana katup dibuka lebar. Terlalu besarnya penurunan tekanan pada katup balancing akan berpengaruh pada kinerja dan karakteristik aliran katup control.
 
2.5.5.                       Metoda balancing hidronik
Banyak teknik dipakai untuk membalans system hidronik, antara lain dengan metoda perbedaan temperature dan metoda proporsional.
 
2.5.6.                       Balansing dengan metode proporsional.
1.     Metoda proporsional memakai kondisi yang ada dan menyesuaikan besarnya faktor keserempakan rancangan. Sirkit dalam system dibalans proporsional dengan cara membagi laju aliran nyata dengan laju aliran rancangan yang melalui sirkit :
 
                                           Laju aliran nyata
Hasil bagi aliran =
                      Laju aliran rancangan
 
 
 
2.     Untuk membalans system cabang secara proporsional, pertama-tama buka katup balans dan katup control pada cabang pada posisi terbuka lebar dan hitung pada setiap balancing hasil bagi aliran yang didasarkan pada pengukuran nyata di setiap terminal.
3.     Catat hasilnya pada formulir dan beri tanda sirkit yang mempunyai hasil bagi aliran terendah. Sirkit dengan hasil bagi yang terendah adalah sirkit dengan kerugian tekanan yang tertinggi dan menjadi sirkit referensi.
4.     Setel semua katup balancing yang lain pada cabang sampai semuanya mempunyai hasil bagi aliran yang sama, seperti sirkit referensi (tidak kurang satu katup cabang harus terbuka penuh).
5.     Catat bahwa bila katup kedua disetel, hasil bagi aliran pada katup referensi juga akan berubah dan penyetelan selanjutnya dibutuhkan untuk membuat hasil bagi aliran mendekati sama.
6.     Bila semua katup balancing telah disetel sampai cabang-cabang dan menunjukkan hasil bagi aliran yang sama, selanjutnya system aliran air total disetel sampai sesuai rancangan dengan menyetel katup balancing yang berada di pelepasan pompa agar hasil bagi aliran sama dengan satu.
7.     Penurunan tekanan pada pelepasan pompa merupakan tekanan pompa yang tidak dibutuhkan untuk menyediakan laju aliran rancangan ke system. Kelebihan tekanan ini dapat dihilangkan dengan memotong impeller yang dilakukan, katup balancing pada pelepasan pompa harus disetel ulang ke posisi terbuka lebar untuk memberikan aliran sesuai rancangan.
8.     Seperti pada pompa dengan beragam kecepatan, keserempakan dan perubahan aliran diakomodasi dengan baik oleh system yang telah dibalans secara proporsional
9.     Apabila katup balancing telah dibalans untuk setiap aliran tertentu (rancangan). Setiap perubahan aliran akan didistribusikan secara proporsional. Balancing dari sisi air dalam system yang menggunakan keserempakan, harus dilakukan pada kondisi aliran penuh.
10. Komponen system dipilih didasarkan pada perpindahan kalor pada aliran penuh, jadi harus dibalans ke posisi ini.
11. Pompa dengan kecepatan Variable.
Untuk mencapai balancing hidronik, aliran penuh yang melalui system dibutuhkan selama prosedur balancing. Sekali balans dicapai, system dapat ditempatkan pada control otomatis dan kecepatan pompa diijinkan untuk berubah. Setelah kondisi aliran penuh dibalans dan posisi penyetelan tekanan differensial system ditentukan, untuk mengontrol pompa dengan kecepatan variable, teliti aliran pada sirkit dengan tahanan yang terbesar. Aliran dalam sirkit yang diamati harus tetap sama atau lebih dari pentelan aliran sebelumnya.
Catatan bahwa alian air mungkin menjadi laminar pada kurangdari 2 fps, dimana ini dapat merubah karakteristik perpindahan kalor dari system.
 
 
2                                     HVAC TESTING DAN BALANCING.
3.1                                Udara.
3.1.1.                         Persiapan.
1.               Kumpulan informasi-informasi berikut :
a.                Cetak biru
b.               Spesifikasi
c.                Gambar fan
d.               Gambar AHU
e.                Skedul Grill.
f.                Data K Faktor
 
2.               Pelajari rancangan & spesifikasi
Baca skedul peralatan pada cetak biru.
Lihat tipe sistimnya maupun peralatannya
Bagaimana jalur ducting, dimana letak damper, apa ukurannya dan lain sebagainya
 
 
Baca kebutuhan spesifikasi untuk Balansing :
a.                Prosentasi ketelitian ± 5% atau 10%
b.               Damper udara luar tertutup atau terbuka.
c.                Instrument apa yang dipasang
d.               Perlu sertifikasi atau tidak
e.                Apakah kontraktor boleh melakukan belansing atau harus pihak ketiga
f.                Apakah bangunan terisi atau tidak
g.               Apa perlu filter yang baru
h.               Dan lain sebagainya
 
3.               Pelajari bagaimana system dapat dibalans dengancara terbaik dan instrument apa yang dibutuhkan.
4.               Isi lembaran informasi umum.
Jelaskan tipe sistim dengan catatan-catatan penting, tuliskan dengan jelas pabrik pembuat Grill, Diffuser dlsb.
Periksa instrument apa yang dibutuhklan, model dan tanggal kalibrasi akhir, periksa apakah sistim & bangunannya sesudah siap diuji.
 
 
3.2                                Prosedur umum untuk balancing
3.2.1.                         Sistim volume tetap tekanan rendah (Total static pressure dibawah 2 ½ in wg)
1.               Prinsip dasar.
a.                Mulailah dari jantungnya sistim yaitu Fan, pastikan bahwa Fan tsb mampu memompa dengan benar.
b.               Pastikan bahwa sistim sudah bersih seperti Filter, Coils, Ducting, Damper dan lain-lain dan tidak tersumbat
c.                Pastikan bahwa sistim dalam keadaan terbuka dan control berada pada posisi yang benar.
d.               Pastikan bahwa semua sistim distribusi telah kedap dan tidak ada lagi ducting yang belum tersambung.
e.                Usahakan untuk melakukan Balansing pada aliran udara maksimum dan cooling coil dalam keadaan basah.
f.                Gunakan metoda balancing proporsional
 
2.               Prosedur umum.
a.                Persiapan
1).        Pelajari rancangan,spesifikasi & gambar peralatan agar terbiasa pada sistim yang akan dibalans.
2).        Persiapkan laporan pengujian.
3).        Periksa apakah sistim & bangunan sudah lengkap dan dapat beroperasi.
 
b.               Periksa jantungnya sistim.
Motor dari Fan adalah bagian yang menggerakkan Fan sehingga karakteristik listriknya harus dichek dan harus dilindungi, jadi langkah pertama dalam proses testing & balancing adalah memeriksa Lima butir pada Fab sebagai berikut :
1).        Arus diarik nmotor dan overloadnya
2).        RPM dari Fan
3).        Tekanan isap dan tekan dari fan
4).        Tekanan jatuh dimasing-masing komponen
5).        Aliran angin total di Fan
                                   
c.                Periksa motor dan starternya
1).        Name Plate Motor
            Karena bagian yang paling lemah dalam system adalah motor, maka motor harus terlindungi dengan sempurna.
            Periksa name paltenya untuk melihat Ampere Maximum, tegangan, Phase, RPM, Service faktor dll.
            Catat dan bandingkan dengan keinginan perencanaan pada lembaran catatan peralatan.
Apabila ada perbedaan, harus segera dibahas.
2).        Thermal overload
Periksa starter dan lihat apakah thermal overload sudah dipasang danb apakah ukurannya cocok.
Untyuk motor 3 phase harus ada 3 overload terpasang, ukuran overload tidak boleh melebihi ampere di Name plate
 
d.               Periksa Komponen-komponen Fan
1).        Fan Wheel
            Periksa apakah ukuran Fan Wheel benar, kadang-kadang pabrik memasang Fannya terbalik
            Apakah celah dan setelan centre antara Wheel dengan rumah Fan sudah benar.
2).        Drive / Pulley
            Periksa Pulleynya. Apakah tegangan sabuknya sudah benar, pada sabuk yang majemuk, periksa apakah tegangan dimasing-masing sabuk sama.
            Periksa apakah Alignmentnya benar.
            Lakukan perhitungan kasar untuk menentukkan RPM Fan dengan membandingkan diameter pulley dari motor dari Fan Wheel.
3).        Start Fan sebentar untuk memeriksa putaran dan perbaiki apabila putarannya salah
 
e.                Periksa Komponen System
1).        Periksa Filter apakah sudah terpasang & bersih
2).        Periksa cooling coil, apakah ada benda asing yang menyangkut, apakah Ada lubang bocoran dari instalasi pipa, apakah coilnya sudah bersih.
3).        Damper otimatis
            Periksa apakah posisi dari damper otomatik sudah benar
4).        Damper-damper keluaran dan Ducting
            Periksa apakah semua damper untuk grill dan diffuser sudah terbuka 100%
            Periksa apakah semua splitter damper pada posisi antara 30º s/d 45º.
            Periksa apakah semua damper manual & fire sudah terbuka 100%.
 
5).        Setting Thermostat.
            Umumnya diset pada 25 º C / 77º C.
 
f.                Pembacaan
1).        Start Up
            Setelah selesai dengan pemeriksaan dan penyetelan awal, jalankan mesin. Dengar dengan seksama apakah Ducting yang terlepas Fan Wheel yang bergeser suara berisik dari motor yang bearing-bearing dll. Apabila ada yang aneh, matikan mesin, cari penyebabnya dan perbaiki segera.
2).        Pembacaan Ampere dan Voltage
            Karena Motor dapat terbakar dengan cepat maka hal yang penting yang pertama harus dilakukan start up adalah mengukur Arus Motor, kemudian baru ukur tegangannya.
3).        Pembacaan RPM
            Setelah membaca arus dan tegangan, periksa apa RPM Fan, mendekati perencanaan. Gunakan Tachnometer.
            Perbaiki apabila ada perbedaan yang besar.
4).        Tekanan Isap dan Tekan Fan
            Baca tekanan isap dan tekan, jumlah keduanya untuk menghitung total static pressure.
5).        Tekanan jatuh diantara komponen-komponen dibagian isap.
            Tekanan jatuh di filter dan coil harus diukur untuk analisis dari referensi yad.
6).        Aliran udara total
            Periksa aliran udara total dari Fan untuk melihat apakah kira-kira anda bias memulai pekerjaan sebelum melakukan Balansing.
            Cara yang terbaik adalah memakai Pitot Tube, pada jalur ducting yang lurus sepanjang 5 s/d 10 kali lebar ducting.
 
g.               Lakukan Balansing pada Duct dan saluran keluar dengan cara proportional
Setelah diketahui bahwa peralatannya benar dan total CFMnya berada dalam daerah yang benar maka pelaksanaan balancing dapat dilakukan.
Awalnya, lakukan dengan jalan kaki keadaan seluruh ruangan-ruangan kalau-kalau ada masalah dengan temperature, kebisingan udara, hembusan udara, kemudian baru lakukan balancing
Pada metoda ini semua saluran keluaran maupun cabang-cabang duct dalam system, diawali dengan tempat yang terjadi dari Fan disetel untuk bekerja pada prosentasi ang sama terhadap design (±15%).
 
h.               Setelan & pembacaan terakhir di Fan
Setelah semua outlet & cabang dibalance pada persen yang sama misalnya 85, 90, 95 atau 115, kembali ke Fan, periksa kembali ke CFM total, ampere dan Static pressure.
Apabila total CFMnya lebih besar dari design maka turunkan RFM Fannya dan sebaliknya.
Kalau CFM motor harus dinaikkan, harap diperhatikan efeknya terhadap kenaikkan ampere motor agar tidak melebihi Ampere maximum.
 
 
 
3.3.                              Air
Prosedur Persiapan Laporan
1.               Kumpulkan informasi yang diperlukan sbb :
a.                Cetak biru
b.               Shop Drawing
c.                Spesifikasi
d.               Brosur-brosur :
-     Pompa-pompa
-        Chiller
-        Mesin-mesin VAC
-        Katup-katup
-        Cooling tower
 
2.               Pelajari rancangan & spesifikasi agar terbiasa dengan sistim & spesifikasinya.
Pelajari alur pipa perhatikan lokasi katup & coilnya.
 
3.               Rencana metoda yang terbaik untuk balancing dan pilih instrument yang perlu dipakai.
 
4.               Siapkan Diagram aliran dan beri catatan pada peralatan utama, AHU, FCU, pipa, diameter, katup-katup dll.
 
5.               Isi laporan uji pompa
Masukkan data pompa, pabrik, model ukuran, type & ukuran impeller masukkan gambar design dari kurva, GDM, RPM, dan Head pada aliran penuh & tanpa aliran, catatan pembacaan tekanan diisi lapangan.
Isi data motor, pabrik, nomor seri, nomor frame, tipe gulungan, service faktor, HP, BHP, tegangan, RPM dan Phase.
Masukkan data starter, pabrik, model, ukuran-ukuran & class. Ukuran overload dapat dilihat dibagian dalam dari tutupnya dan overload sebenarnya dilihat pada saat pemeriksaan lapangan.
 
6.               Isi laporan balancing aliran atau tekanan jauh
Daftarkan rangkaian primer dan sekunder dalam kelompok dan berurutan. Daftarkan katup-katup dan terminal dalam urutan dimulai dari pompa, berikut petunjuk-petunjuk dan lokasinya
Tunjukkan ukurannya.
Masukkan juga CFM yang dibutuhkan maupun pembacaan beda tekanan yang dipellukan untuk mendapatkan aliran air.
 
7.               Isi laporan balancing temperature air.
Daftarkan coil maupun nomor kamar secara berurutan
Berikan ukuran, rancangan EWT & LWT, rancangan EAT & LAT.
 
8.               Isi laporan uji chiller.
Dimulai data dasar dari compressor, pabrik, model, ukuran, kapasitas, refrigerant, lb, nomor seri.
Tekanan & temperature refrigerant dikompressor, evaporator dan kondensor biasanya dichek oleh angin mesin pada saat start up dan umumnya bukan bagian dari balancing air.
Isi tekanan, temperature dan aliran air menurut rancangan di EVAPORATOR & KONDENSER.
Isi data listrik rancangan HP, KW, tegangan, Phase dari compressor starter.
 
9.               Untuk Aircooled condenser isi pada laporan yang diperuntukkan untuk itu.
 
 
3.4.                              Laporan uji pompa
1.               Isi bagian atas laporan
2.               Isi data dari pompa, motor dan starter dari gambar
3.               Isi rancangan unjuk kerja berupa BPM, RPM & Heat pada full & no flow. Tekanan isap & tekan diisi sesuai pembacaan dilapangan.
4.               Periksa name plate pompa & motornya dan lakukan pemeriksaan fisik untuk melengkapi data
5.               Periksa starter dan ukurannya overloadnya
6.               Jalankan pompa sekejap untuk memeriksa putarannya.
7.               Catat pembacaan ampere dan voltage
8.               Catat pembacaan tekanan discharge & static pada saat pompa mati, lalu jalankan pompa dalam keadaan tanpa aliran kemudian aliran penuh tekanan total dari pengurangan tekanan discharge dengan suction.
 
 
3.5.                              Laporan balancing air (perbedaan tekanan)
Laporan ini dipakai untuk membaca besaran-besaran dengan alat pengukur aliran seperti Pittor tube, Ventusi dan lain sebagainya.
Tekanan jatuh diantara alat ukur ini diukur dan dikaitkan dengan kurva yang diterbitkan oleh pabrik untuk mendapatkan GPM.
Satuan yang benar, Psi, Feet datu inci harus dipakai sesuai kurva
% design dalam contoh laporan adalah pembacaan awal pada metode proportional.
Isi besarnya aliran atau jatuhnya tekanan.
Di daftar berurutan mulai dari rangkaian Primer lalu sekunder
Didaftar katup-katup dan terminal secara berurutan mulai dari pompa.
 
 
3.6.                              Laporan balancing air(perbedaan temperature)
Apabila tidak ada alat pengukura aliran yang terpasang maka aliran yang melalui cooling bias diperkirakan secara langsung melalui metoda pengukuran panas ukur :
1.               Entering Air temperature (EAT)
2.               Leaving Air temperature (LAT)
3.               CFM udara
4.               Entering Water Temperatur (EWT)
5.               Leavig Water Temperatur (LWT)
 
Bias didapatkan GPM dari air yang melalui coil.
 
 
3.7.                              Laporan uji chiller.
1.               Perlu diperhatikan bahwa chiller harus memiliki kapasitas yang benar dan menghasilkan beda temperature yang sesuai rancangan.
2.               Isi semua data untuk compressor, motor, chiller, condenser dlsb
3.               Periksa nameplate dari motor, compressor dan condenser
4.               Periksa level dari oil
5.                Periksa starter dan ukuran overload
 
Catat pembacaan besar-besaran listrik, tekanan air dari chiller dan condenser, temperature dan aliran air chiller dan condenser, tekanan dan temperature refrigerant
Isi aliran, temperature dan tekanan yang direncanakan pada Evaporator dan condenser.
Kondisi-kondisi pada saat uji coba diisi lapangan seperti level oli dan ref setting control air, cut out tekanan dan temperature dll.
 
 
 
Lampiran L 3-1
PROCEDURE DIAGRAM FOR TESTING AND BALANCING AN HVAC SYSTEM
 
 
 
 
 
Lampiran L 3-2
 
TESTING AND BALANCING REPORT
 
 
Date.....................................................................
 
Job.................................................................................
 
Location........................................................................
 
Architect  ...................................................Phone.............................................................
 
Enginee..................................................... Phone....................................................... ......
 
Testing and Balancing Contraktor......................................................................................
 
 
Address..............................................................................................................................
 
 
City   ......................................               State         ....................... Zip...............................
 
 
Phone.................................................... Fax Number........................................................
 
 
 Lampiran L 3-3
 HVAC PLAN OF NORTH HIGH SCHOOL
 
 
 
 
 
Lampiran L 3-4
GENERAL INFORMATION
 
 
 
 
Lampiran L 3-5
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 by admin@pt-ltf.com
  

 

 

 

PT. Laksanatama Tiara Fajarindo

Pilihan Bahasa
KUNJUNGAN KE WEB INI